Jejak Leluhur di Tanah Kepayang: Meniti Sejarah Pantak Ne' Anjo
Di balik rimbunnya vegetasi Desa Kepayang Sebagai salah satu Desa dari 4 Desa di Kecamatan Anjongan, Kabupaten Mempawah, berdiri sebuah situs yang bukan sekadar struktur fisik, melainkan jantung spiritual dan historis bagi masyarakat setempat. Dalam tradisi masyarakat Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat, Pantak bukan sekadar patung kayu biasa. Ia merupakan perwujudan fisik dari rasa hormat, spiritualitas, dan sejarah yang membeku dalam kayu, Pantak Ne' Anjo merupakan warisan budaya tak benda yang terpatri kuat sebagai cikal bakal berdirinya Desa Kepayang.
Pantak Ne'Anjo berakar pada hubungan antara yang hidup, yang mati, dan alam semesta. yang memiliki nilai-nilai utama yang menjadi peganggan masyarakat Desa Kepayang Hingga Hari ini seperti:
Penghormatan terhadap Akar (Leluhur): Pantak Ne' Anjo adalah pengingat bahwa sebuah komunitas tidak berdiri dengan sendirinya. Ada jasa para pendahulu yang telah membuka hutan, membangun pemukiman, dan melindungi warga. Menjaga Pantak berarti menjaga rasa hormat terhadap sejarah.
Perlindungan dan Penjagaan: Secara filosofis, Pantak Ne' Anjo dipercaya sebagai "penjaga" kampung. Kehadirannya di batas desa atau di tempat keramat memberikan rasa aman secara psikis dan spiritual bagi warga dari gangguan roh jahat atau nasib buruk.
Keabadian Nilai-Nilai: Penggunaan kayu ulin yang tidak bisa busuk melambangkan bahwa nilai-nilai kebaikan, keberanian, dan kebijakan yang dimiliki oleh sosok tersebut haruslah abadi dan tidak luntur dimakan zaman (tetap relevan bagi anak cucu).
Keseimbangan Kosmos: Dalam pandangan hidup Dayak, harmoni harus dijaga antara manusia dengan pencipta (Jubata), sesama manusia, dan arwah leluhur. Pantak Ne' Anjo menjadi jembatan untuk menjaga keseimbangan tersebut agar desa tetap diberkati dengan panen yang melimpah dan kesehatan.
Simbol Kehormatan dan Identitas
Dalam tradisi masyarakat Dayak Kanayatn, Pantak adalah patung kayu atau situs pemujaan yang didirikan untuk menghormati leluhur atau sosok pahlawan yang telah berjasa besar semasa hidupnya. Nek Anjo diyakini sebagai tokoh generasi awal kepayang, simbol pemimpin visioner yang membuka jalan bagi peradaban di wilayah yang sekarang menjadi Desa Kepayang.
"Membangun masa depan tanpa melupakan akar." Keberadaan Pantak Nek Anjo menjadi pengingat bagi generasi muda Desa Kepayang bahwa tanah yang mereka pijak memiliki sejarah panjang perjuangan dan kearifan lokal.
Nilai Warisan Budaya
Situs ini memiliki peranan vital dalam tatanan sosial masyarakat:
Pusat Spiritual: Menjadi tempat pelaksanaan ritual adat sebagai bentuk syukur dan penghormatan kepada arwah leluhur yang menjaga desa.
Identitas Geografis: Nama "Anjongan" sendiri memiliki keterikatan erat dengan sosok Nek Anjo, mempertegas posisi Desa Kepayang sebagai bagian penting dari peta sejarah Kabupaten Mempawah.
Perekat Sosial: Situs ini menjadi titik temu bagi masyarakat untuk merawat gotong royong dan melestarikan tradisi lisan yang turun-temurun diceritakan tentang asal-usul mereka.
Menjaga Warisan untuk Masa Depan
Upaya pelestarian yang dilakukan oleh pemerintah desa dan tokoh adat, sebagaimana terlihat dalam peninjauan lokasi situs, merupakan langkah nyata dalam melindungi kekayaan intelektual bangsa. Dengan menjaga Pantak Ne' Anjo, Desa Kepayang tidak hanya memelihara sebuah objek fisik, tetapi juga menjaga api semangat kemandirian dan keberanian yang diwariskan oleh Nek Anjo.
Keberadaan Pantak Ne' Anjo menjadi titik koordinat sejarah yang menentukan legalitas sebuah wilayah adat. Jika sebuah desa memiliki Pantak yang tua, itu adalah bukti fisik bahwa wilayah tersebut telah dikuasai dan ditinggali secara turun-temurun, menjadikannya bukti kedaulatan tanah adat, Pantak Nek Anjo adalah saksi bisu waktu yang terus berbicara. Ia adalah simbol bahwa Desa Kepayang tumbuh dari penghormatan terhadap alam dan leluhur. Melalui situs ini, kita diajak untuk kembali menengok ke belakang agar dapat melangkah lebih mantap menuju masa depan.
(Sumber:Marjan Sekretaris Desa Kepayang)
Komentar
Posting Komentar